Camat Bontoala Apresiasi Semarak Maulid Nabi di RW 05 Gaddong: “Persatuan Warga Seperti Songkolo”

Share ke social media

JURNALISTA.ID, MAKASSAR — Semarak Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah/2026 Masehi di RW 05 Kelurahan Gaddong, Kecamatan Bontoala, Kota Makassar, mendapat apresiasi dari Camat Bontoala, Fatahullah.

Kegiatan yang berlangsung meriah tersebut dihadiri jajaran pemerintah kecamatan dan kelurahan, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, pengurus masjid, Ketua RT/RW, serta masyarakat dan anak-anak.

Fatahullah mengaku terkesan melihat antusiasme masyarakat dalam memeriahkan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Ia bahkan menyebut suasana Maulid di RW 05 Gaddong tak kalah meriah dibandingkan perayaan 17 Agustus.

“Luar biasa. Saya tadi kira kegiatan perayaan 17-an. Tepuk tangan dulu untuk kita semua,” ujar Fatahullah disambut tepuk tangan dan antusiasme warga.

Ia menyampaikan permohonan maaf karena tiba di lokasi sedikit terlambat. Sebelumnya, Fatahullah menghadiri kegiatan Maulid Nabi di Kelurahan Bontoala Parang sebelum melanjutkan perjalanan ke Kelurahan Gaddong.

Menurutnya, setelah melihat suasana kegiatan di RW 05 Gaddong, dirinya merasa seharusnya datang lebih awal.

“Seandainya saya lihat suasananya seperti ini, lebih bagus saya ke sini dulu baru ke Bontoala Parang. Ini luar biasa,” katanya.

Fatahullah memberikan penghargaan kepada panitia pelaksana yang dinilainya berhasil menghadirkan kegiatan Maulid secara semarak dan melibatkan berbagai unsur masyarakat.

Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dipertahankan dan bahkan ditingkatkan pada tahun-tahun mendatang.

“Saya mengucapkan terima kasih. Semoga untuk tahun depan kegiatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW bisa lebih meriah lagi untuk kita laksanakan,” tuturnya.

Namun, Fatahullah mengingatkan bahwa esensi Maulid Nabi bukan sekadar kemeriahan, ornamen, maupun hiasan telur yang menghiasi lokasi kegiatan.

Menurutnya, berbagai ornamen tersebut merupakan bagian dari cara untuk membangun semangat masyarakat, khususnya anak-anak dan generasi muda, agar semakin mencintai kegiatan keagamaan dan mengenal keteladanan Rasulullah SAW.

“Maulid ini bukan hanya sekadar menampilkan ornamen-ornamen telur seperti ini. Ini hanya ornamen, minimal sebagai salah satu penyemangat utama anak-anak kita dan adik-adik kita,” jelasnya.

Ia kemudian mengajak warga melihat tradisi telur Maulid dari sisi yang lebih luas, yakni sebagai bagian dari keberkahan dan kebersamaan.

“Kalau dilihat telur itu, semangat juga ikut kegiatan Maulid. Walaupun telur di rumah banyak, beda rasanya kalau di acara Maulid. Orang bilang barakahnya diambil, barakahnya dibawa,” ucapnya dengan gaya humor yang mengundang tawa warga.

Dalam kesempatan tersebut, Fatahullah juga mengungkapkan kekagumannya terhadap kebersamaan masyarakat Kelurahan Gaddong, khususnya warga RW 05.

Ia mengaku telah menghadiri sejumlah kegiatan Maulid di beberapa kelurahan, baik yang digelar di dalam maupun di luar masjid. Namun, menurutnya, kemeriahan Maulid di Gaddong memiliki keistimewaan tersendiri.

“Sudah ada beberapa kelurahan yang saya ikuti kegiatan Maulidnya, baik itu dilaksanakan di masjid maupun di luar masjid. Tetapi Kelurahan Gaddong ini luar biasa,” katanya.

Fatahullah menilai keterlibatan anak-anak, remaja, orang tua, hingga kaum perempuan menjadi gambaran kuatnya persatuan warga.

Ia kemudian menggunakan filosofi songkolo sebagai perumpamaan untuk menggambarkan kekompakan masyarakat RW 05.

“Persatuan kita, umat Islam, warga Kelurahan Gaddong khususnya RW 05 ini, persatuannya seperti songkolo,” ujarnya.

Menurut Fatahullah, beras pada awalnya terdiri dari butiran yang terpisah satu sama lain. Namun setelah dimasak, butiran tersebut berubah menjadi satu kesatuan yang lengket dan sulit dipisahkan.

“Songkolo awalnya dalam bentuk beras, berpisah-pisah, bercerai-berai. Setelah dimasak, langsung melengket menjadi satu. Tidak mau terlepas,” jelasnya.

Ia menilai filosofi tersebut sangat tepat untuk menggambarkan kondisi masyarakat RW 05 Gaddong yang memiliki latar belakang berbeda-beda, tetapi mampu menyatu dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan.

“Samalah warganya Kelurahan Gaddong, RW 05 ini. Awalnya berbeda-beda. Berbeda suku, berbeda agama, berbeda keturunan, berbeda adat, berbeda budaya. Tetapi ketika dia menyatu dalam sebuah kegiatan seperti songkolo, lengket,” ungkapnya.

Fatahullah berharap kekompakan tersebut terus dipelihara sehingga kehidupan masyarakat tetap rukun, aman, damai, dan saling membantu.

Lebih jauh, Camat Bontoala mengatakan keberhasilan sebuah kegiatan masyarakat tidak hanya dapat dilihat dari kemeriahan acaranya, tetapi juga dari tingkat partisipasi dan kebersamaan warga.

Menurut dia, ketika sebuah kegiatan di tingkat kelurahan mampu menghadirkan masyarakat dalam suasana ceria dan penuh kebersamaan, hal tersebut menjadi indikator positif mengenai kondisi sosial masyarakat.

“Ketika ada sebuah kegiatan yang dilakukan di tingkat kelurahan, ketika dia ramai, masyarakatnya cerah ceria, semuanya bisa dilihat bagaimana persatuan dan kesatuan serta bagaimana kondisi yang ada di warga,” katanya.

Fatahullah menyebut hal tersebut terlihat di Kelurahan Gaddong. Tidak hanya dalam kegiatan Maulid Nabi, tetapi juga dalam berbagai kegiatan lain dan perlombaan yang melibatkan masyarakat.

“Kalau saya melihat memang di Gaddong ini luar biasa. Bagaimana acara pun, baik di sini atau di lomba-lomba yang lain atau kegiatan di kelurahan, semua bersatu, menyatu, kemudian saling bekerja sama bahu-membahu,” ujarnya.

Ia juga memberikan apresiasi kepada jajaran Kelurahan Gaddong yang dinilai mampu menjaga komunikasi dan kolaborasi bersama masyarakat.

Fatahullah menegaskan bahwa semarak Maulid Nabi hendaknya tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Nilai-nilai yang terkandung dalam peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW harus diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, kebersamaan yang terlihat dalam kegiatan tersebut merupakan modal penting untuk membangun lingkungan yang aman, harmonis, dan memiliki kepedulian sosial.

“Terima kasih kepada panitia pelaksana kegiatan pada malam hari ini. Luar biasa,” katanya.

Ia pun kembali menyampaikan apresiasi kepada seluruh masyarakat, khususnya anak-anak dan generasi muda yang turut mengambil bagian dalam kegiatan.

“Sekali lagi terima kasih kepada Bapak dan Ibu sekalian, adik-adik, anak-anak,” tutup Fatahullah.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Ketua PKK Kec. Bontoala Hj. Erny Said Patahulla, Lurah Gaddong Rakhmawati Mattayang, S.Pd., S.M., M.M., Sekretaris Lurah Gaddong Lala Ramlah, S.Sos., Bhabinkamtibmas, Sertu Hamka, S.H., M.H., Ketua Panitia H. Mansur, Ketua Pengurus Masjid Hajar Aswad H. Syamsuddin Sampara, S.H., serta para Ketua RT dan RW se-Kelurahan Gaddong.

Semarak Maulid Nabi di RW 05 Gaddong tidak hanya menjadi momentum memperingati kelahiran Rasulullah SAW, tetapi juga menjadi ruang memperkuat silaturahmi, gotong royong, persatuan, dan kebersamaan warga.

Penulis : Fands

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *