JURNALISTA.ID, MAROS – Arus lalu lintas di pusat Kabupaten Maros mengalami kemacetan parah pada Jumat sore (22/5/2026).
Hal ini dipicu oleh aksi unjuk rasa sekelompok mahasiswa yang menggelar demonstrasi tepat di kawasan lampu merah Patung Kuda, Maros.
Massa aksi yang memadati jalan utama trans-Sulawesi tersebut melakukan tindakan nekat dengan menghadang dan memalangkan sebuah truk kontainer di tengah jalan.
Akibat pembajakan kendaraan besar tersebut, arus kendaraan dari arah Makassar menuju daerah utara Sulawesi Selatan maupun sebaliknya lumpuh total.
Tuntut Dugaan Material Ilegal PT Garton
Berdasarkan pernyataan sikap yang dibawa oleh massa, aksi ini diinisiasi oleh Gerakan Advokasi Mahasiswa Nasional (GAMNAS) Sulawesi Selatan.
Mereka menyuarakan tuntutan keras terkait isu lingkungan dan hukum di wilayah Kabupaten Maros.
Dalam tuntutannya, GAMNAS mendesak aparat penegak hukum untuk segera mengusut tuntas dugaan penggunaan material hasil tambang ilegal oleh PT Garton.
Perusahaan tersebut diduga memanfaatkan material ilegal untuk kebutuhan produksi beton siap pakai (ready mix) mereka di wilayah Kecamatan Marusu, Maros.
”Kami menilai jika dugaan ini benar, maka ini adalah bentuk pengabaian hukum nyata yang justru memperkuat suburnya bisnis tambang ilegal di Sulawesi Selatan,” tulis GAMNAS dalam pernyataan resminya.
Tiga Poin Tuntutan Massa
Dalam aksi yang dikawal ketat oleh aparat kepolisian ini, mahasiswa membawa tiga tuntutan utama:
Usut Tuntas PT Garton: Mendesak penegak hukum mengusut dugaan penggunaan material tambang ilegal oleh PT Garton secara transparan.
Tindak Tegas Pelaku Tambang: Meminta Polda Sulsel dan Polres Maros menindak seluruh aktivitas tambang ilegal beserta pihak penadah atau penggunanya.
Audit dari Dinas ESDM: Mendesak Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Sulsel melakukan audit legalitas menyeluruh terhadap sumber material perusahaan ready mix di Maros.
Hingga berita ini diturunkan, kemacetan panjang masih mengular di sekitar area Patung Kuda Maros.
Pihak kepolisian terus berupaya melakukan negosiasi dengan mahasiswa agar bersedia memindahkan truk kontainer tersebut guna mengurai kepadatan lalu lintas.
Penulis: Tawang