Jurnalista.Id, Makassar — Dentuman pagandrang menggema di kawasan SMK Negeri 4 Makassar. Bukan untuk pesta, bukan pula untuk perayaan. Irama itu justru mengiringi satu peristiwa yang jarang terjadi—para pedagang kaki lima (PK5) membongkar lapak mereka sendiri, tanpa perlawanan.
Tak ada teriakan. Tak ada benturan. Yang ada hanya langkah-langkah pelan, tangan-tangan yang mulai melepas atap lapak, dan wajah-wajah yang menyimpan perasaan campur aduk antara harapan dan kehilangan.
Di tengah suasana itu, Camat Bontoala, Fatahullah, tak mampu menyembunyikan emosinya. Saat dimintai keterangan, ia hanya terdiam. Matanya berkaca-kaca. Tangisnya pecah, menyaksikan langsung proses penertiban yang berlangsung damai—sesuatu yang tak mudah terjadi dalam situasi seperti ini, Kamis (23/4/2026).
Momen tersebut menjadi simbol kuat bahwa pendekatan humanis yang dibangun selama ini membuahkan hasil.

Ketua PK5 sekaligus tokoh masyarakat, H. Bani, berdiri di tengah para pedagang. Dengan suara yang bergetar namun tegas, ia mengingatkan bahwa apa yang terjadi hari itu bukanlah kekalahan.
“Pemerintah tidak mungkin membunuh rakyatnya. Justru mereka ingin kita lebih baik,” ujarnya.
Menurutnya, proses ini bukan keputusan yang datang tiba-tiba. Selama kurang lebih tiga bulan, komunikasi intensif telah dibangun antara pedagang dan pemerintah. Dialog demi dialog dilakukan, bahkan dalam suasana sederhana—makan bersama, duduk sejajar, saling mendengar.
Namun, jalan menuju kesepakatan bukan tanpa ujian. Malam sebelum penertiban, provokasi sempat datang dari luar. Ajakan untuk melawan beredar di antara pedagang. Situasi sempat memanas.
“Tapi kita punya adab. Kita tidak mau terpecah,” kata H. Bani.
Keputusan pun diambil: membongkar sendiri lapak sebagai bentuk kesadaran dan menjaga harga diri.
“Kalau dibongkar paksa, itu beda. Tapi kalau kita bongkar sendiri, itu pilihan,” tegasnya.
Alunan pagandrang yang terus berdentum seakan menjadi penegas bahwa hari itu bukan tentang penggusuran, melainkan tentang perubahan cara pandang. Tentang bagaimana kepercayaan bisa menggantikan ketakutan, dan dialog mampu meredam konflik.
Pemerintah pun mengapresiasi langkah para pedagang yang memilih jalan damai. Penertiban berjalan tanpa gesekan, sesuai arahan untuk mengedepankan pendekatan persuasif dan menghindari benturan.
Kini, harapan baru mulai dibangun. Kawasan di sekitar SMK Negeri 4 Makassar yang sebelumnya dikenal semrawut, diarahkan menjadi ruang usaha yang lebih tertata, layak, dan bermartabat.
“Di sinilah kita ubah semuanya,” ucap H. Bani. “Dari yang dulu dianggap masalah, menjadi contoh untuk Kota Makassar.”
Dan di balik dentuman pagandrang itu, tersimpan satu pesan kuat—bahwa perubahan tidak selalu lahir dari konflik. Kadang, ia tumbuh dari kesadaran dan air mata.
Penulis : Arifandi