JURNALISTA.ID, MAKASSAR — Dua lurah perempuan dari Kecamatan Bontoala tampil kompak dan penuh semangat dalam program “Halo Makassar” di Radio Venus, membahas berbagai persoalan wilayah mulai dari keamanan lingkungan, maraknya geng motor, hingga penataan PK5 dan bangunan liar secara humanis.
Kedua lurah tersebut yakni Lurah Parang Layang, Sri Nurlaelah, dan Lurah Gaddong, Rahmawati Mattayang. Dalam suasana santai namun penuh makna, keduanya berbagi pengalaman memimpin wilayah di tengah tantangan perkotaan yang semakin kompleks.

Diketahui, keduanya sama-sama dilantik sebagai lurah pada 29 September 2025 dan kini telah kurang lebih tujuh bulan menjalankan amanah sebagai pemimpin wilayah di Kecamatan Bontoala.
Dalam dialog tersebut, Sri Nurlaelah menuturkan bahwa tantangan pelayanan publik saat ini sudah memasuki era serba digital. Menurutnya, masyarakat kini menuntut pelayanan yang cepat, mudah, dan responsif.
“Sekarang semua serba digital. Masyarakat bisa mengurus administrasi secara online dan pelayanan harus semakin cepat,” ujarnya.
Sementara itu, Rahmawati Mattayang mengungkapkan bahwa tantangan terbesar seorang lurah bukan hanya soal administrasi pemerintahan, tetapi bagaimana membangun kedekatan dan kepercayaan masyarakat.
“Yang pertama saya harus menepis rasa takut menghadapi berbagai karakter warga. Kemudian bagaimana caranya saya bisa diterima masyarakat dan bersama-sama membangun wilayah,” ungkapnya.
Selain pelayanan publik, persoalan keamanan wilayah juga menjadi perhatian utama dalam perbincangan tersebut. Maraknya aksi geng motor dan gangguan kamtibmas membuat kedua lurah aktif memperkuat koordinasi bersama RT/RW, Linmas, Babinsa, Bhabinkamtibmas, hingga pihak kepolisian.
Lurah Paranglayang menjelaskan bahwa pihaknya rutin menggelar posko malam bersama aparat dan warga, khususnya di wilayah-wilayah yang dianggap rawan.
“Setiap malam kami adakan posko bersama RT/RW, Linmas, Babinsa dan Bhabinkamtibmas untuk menjaga keamanan wilayah,” jelasnya.
Hal serupa juga dilakukan di Kelurahan Gaddong. Rahmawati bahkan mengaku rutin turun langsung melakukan patroli malam bersama aparat dan warga hingga masuk ke lorong-lorong.
“Kami keliling naik motor sampai tengah malam, menyapa warga yang masih berkumpul di lorong-lorong untuk memastikan wilayah tetap aman dan kondusif,” katanya.
Suasana patroli malam di Kelurahan Gaddong juga diwarnai kebersamaan antarwarga. Secara bergilir RT/RW ikut menjaga posko malam sambil membawa makanan untuk dinikmati bersama sebagai bentuk kekompakan menjaga lingkungan.
Tak hanya soal keamanan, pembahasan juga menyoroti penataan PK5 dan bangunan liar yang saat ini menjadi fokus Pemerintah Kota Makassar.
Sri Nur Laila menjelaskan proses penertiban lapak di sekitar SMK 4 Makassar yang telah berdiri puluhan tahun dilakukan dengan pendekatan persuasif dan humanis.
“Kami lakukan sentuh hati dulu, komunikasi baik-baik, kemudian SP1 dan SP2. Sebelum SP3 kami kembali mengajak dialog agar tidak terjadi konflik. Alhamdulillah warga akhirnya melakukan pembongkaran mandiri,” tuturnya.
Sementara itu, Rahmawati Matayang menegaskan bahwa penataan wilayah dilakukan berdasarkan aturan yang berlaku dan merupakan bagian dari program pemerintah dalam menciptakan kota yang tertib dan nyaman.
“Apa yang kami lakukan adalah menjalankan aturan dan arahan pemerintah. Namun pendekatannya tetap humanis, komunikatif dan mengedepankan dialog dengan warga,” tegasnya.
Kehadiran dua lurah perempuan ini mendapat apresiasi karena dinilai mampu menghadirkan gaya kepemimpinan yang tegas namun tetap dekat dengan masyarakat. Kolaborasi antara pemerintah, aparat keamanan, dan warga pun menjadi kunci dalam menjaga stabilitas wilayah di Kecamatan Bontoala.
Dengan semangat kebersamaan dan pendekatan yang humanis, Kelurahan Paranglayang dan Gaddong terus menunjukkan komitmennya menciptakan lingkungan yang aman, tertib, dan nyaman bagi masyarakat Kota Makassar.
Sumber : Radio Venus